KONTEKS
PSIKOLOGI DALAM
PENGAMBILAN
KEPUTUSAN
Mata Kuliah
Pengambilan
Keputusan
Dosen Pengampu:
Dr. Muhdi, S.H.,
M.Hum.
Dr. Nurkolis,
M.M.
Dr. Yovitha
Yuliejantiningsih, M.Pd.
Disusun Oleh:
|
Mukh
Khusnaini
|
: 13510029 |
PROGRAM
PASCASARJANA (S-2)
UNIVERSITAS PGRI
SEMARANG
2014
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Keputusan merupakan hal yang tidak
terpisahkan dalam setiap aktivitas sehari-sehari, apalagi di dalam sebuah
organisasi keputusan sangat penting demi majunya suatu organisasi. Oleh karena
itu setiap orang harus mampu mengambil keputusan yang menguntungkan bagi semua
anggota organisasinya. Karena keputusan yang diambil itu akan berperan dalam
rangka peningkatan mutu suatu organisasi sampai dengan tercapainya suatu tujuan
yag ditetapkan.
B.
Rumusan Masalah
1.
Mengapa Kepribadian sebagai
determinan pilihan?
2.
Bagaimana Kecenderungan resiko
dalam perilaku pilihan?
3.
Bagaimana Persepsi dalam
pengambilan keputusan?
4.
Bagaimana Pengaruh alam bawah
sadar dalam pengambilan keputusan?
C.
Tujuan
Tujuan
dari penulisan makalah ini untuk: Memahami Kepribadian sebagai
determinanan pilihan, Kecenderungan
resiko dalam perilaku pilihan,
Persepsi
dalam pengambilan keputusan,
dan Pengaruh
alam bawah sadar dalam pengambilan keputusan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Kepribadian sebagai Determinan Pilihan
Kepribadian bisa
diartikan sebagai semua tindakan dan pertimbangan seseorang dalam hubungannya dengan
orang lain dan lingkungannya. Kepribadian
adalah konsep suci yang ada pada diri seseorang seperti kualitas, gerakan hati,
kebiasaan, ketertarikan, keyakinan dan sifat-sifat lain tergantung pada diri secara
individu sebagaimana yang ia munculkan dalam kehidupan bermasyarakat.
Sigmund
Freud mengatakan bahwa:
1.
Manusia dikuasai oleh kemauan
bawah sadar dan emosi,
2.
Mulai tahap awal masa kanak2 dari
dasar terpenting untuk membentuk kepribadian seseorang menjadi dewasa.
Freud
percaya bahwa seseorang dikuasai oleh dua pengendali utama:
1.
Life
Instincts. Yang
meliputi semua aktivitas positive dan membangun.
2.
Death/Hate
Instincts. Yang
meliputi aktivitas yang merusak atau negative.
Life Instincts
dicontohkan seperti sifat lapar, haus, dan sex. Dan kekuatan energi yang meliputi aktivitas yang disebut dengan libido. Lebih luas ia mengatakan bahwa hampir semua
tingkah laku diatur oleh suatu dasar yang disebut pengendali sex.
Menurut Freud kepribadian seseorang terbentuk dari
id, ego, dan super ego.
Ø Id
meliputi pengendali dasar/utama yaitu kesenangan dan agresifitas seseorang.
Ø Ego
merupakan bagian nyata dari sistim bathin seseorang yang mencoba untuk mencari
kepuasan dari keinginan yang berasal dari id ketika keterbatasan terjadi pada
dunia secara nyata.
Ø Super
ego merupakan keberubahan/ketidak pestian dalam diri seseorang secara sosial
dan moral pada sistim bathinnya.
Ø Ketiganya
bisa disimpulkan
Id :
Dasar secara biologis
Ego :
Ditentukan Oleh kenyataan bathin.
Super ego : Diakibatkan oleh kebudayaan dan
masyarakat.
Freud mengatakan tiga komponen tersebut merupakan
konflik atau masalah
yang berkelanjutan dan saling berkaitan yang bisa diselesaikan dengan berbagai
keadilan atau pertimbangan
pada kesadaran atau ketidaksadaran
dengan menggunakan mekanisme pertahanan seperti, melihat keadaan yang sesungguhnya atau rasionalisasi, memindahkan persoalan pada jalurnya atau displacement, mengenali persoalan atau identifikation, dan menghilangkan atau menekan masalah yang tidak penting atau suppression,
semua atau hanya satu dari semua hal tersebut bisa melepaskan tekanan atau
mengurangi kegelisahan pada diri seseorang.
1.
Pendekatan
kepribadian secara holistik
Teori-teori holistik menekankan tingkah laku secara
menyeluruh dan berkaitan. Maslow Membagi 4 bagian pada hirarki kebutuhan manusia yang dikembangkan
dari penelitian aspek-aspek
positive dan optimistik yang mencakup semua fungsi yang ada pada manusia.
Carl Rogers membuat konsep: menjalankan secara individu pada bidang-bidang nyata dari pengalaman
seseorang.
Sedangkan
konsep dari Lewins
yaitu “field theory”, menunjukkan sikap pribadi seseorang
secara komplek pada suatu persepsi mengenai realitas atau kenyataan yang meliputi interaksi pada penekanan internal dan external
setiap orang.
Beberapa teori tentang kepribadian akan membuat seseorang menjadi lebih berarti melalui
pembelajaran yang luas
dengan penelitian untuk mengetahui batasan perspektif atau pandangan pada berbagai dimensi setiap pribadi dengan perhatian khusus pada proses secara keseluruhan dalam pengambilan keputusan.
2.
Persepsi ilmiah
pada kepribadian
Hasil dari penelitian Brim Jr. Pendekatan yang digunakan pada penelitian Braim memberikan contoh bagus pada kombinasi atau gabungan antara trait atau sifat dan holistik teori
kepribadian. Penemuan
ini sangat berguna untuk pembuat keputusan. Penerapan secara umum untuk
kepribadian sebagai suatu hal utama dalam proses membuat keputusan yang
dihasilkan dari penelitian sebagai berikut:
a.
Tidak ada alasan
meyakini bahwa setiap orang memiliki kemampuan yang sama pada semua fase
pembuatan keputusan. Dengan kata lain hasilnya menyarankan bahwa banyak orang
akan melakukan dengan benar dalam satu bagian pada suatu proses, dan orang lain juga
akan melakukan hal yang lebih bagus pada bagian yang lainnya.
b.
Sifat-sifat kepribadian yang berbeda bisa
disamakan dengan faktor-faktor
proses
keputusan yang berbeda, seperti keahlian, kecerdasan, atau pelatihan pd pembuat
pilihan.
c.
Hubungan
kepribadian dengan proses keputusan mungkin jauh berbeda diantara kelompok
sosial pada faktor-faktor dasar seperti sex dan
status sosial.
Penelitian
Braim juga menilai sama dalam menghasilkan penemuan-penemuan khusus yang lebih awal penggunaannya pada
pengaturan pembuat keputusan:
a.
Orang yang
cenderung bergantung pada orang lain
akan lebih optimis melebihi
tindakan yang ia keluarkan dan
mempertimbangkan lebih banyak apa yang ia keluarkan dalam mengevaluasi berbagai alternativ-alternativ atau kemungkinan-kemungkinan, dan akan kurang
rasional dalam pemilihan urutan tindakan berdasarkan evaluasi awal atau sebelumnya.
b.
Ciri-ciri pembuatan keputusan yang berbeda
dalam evaluasi keinginan, kemungkinan,
dan waktu mengeluarkan tindakan dihubungkan dengan akibat-akibat tingkat tinggi dan
keinginan yang digenaralisasikan
untuk suatu kepastian.
c.
Individu dari
status sosial menegah menunjukkan memiliki dorongan batin (penindasan atau ketegaan) dan susunan emosi lebih
besar dibandingkan dengan individu dari kelas bawah dan juga memiliki orientasi atau pengalaman yang lebih untuk
memandang masa depan.
d.
Individu dari
status sosial kelas bawah memiliki sedikit kepercayaan diri dalam kemampuannya mengendalikan
keinginan atau tujuan
pribadinya dan lingkungannya, sedangkan individu dari kelas menengah lebih
percaya diri, memandang dirinya pantas atau cukup pantas, dan dominan atau menguasai dalam hubungannya dengan
orang lain.
Braim
juga meneliti pengaruh perbedaan secara individu antara laki-laki dan perempuan dari dua kelompok individu kelas bawah dan menengah kelas dibedakan dari faktor-faktor sosial ekonomi seperti,
posisi di masyarakat, pekerjaan, pendidikan, dan keturunan. Penemuannya adalah:
a.
Kelompok kelas
menengah laki-laki,
mempunyai nilai lebih tinggi dibandingkan dengan kelas bawah pada orientasi atau pengetahuan mengenai waktu masa
depan, kepercayaan pada kemungkinan hidup, kemandirian dalam memutuskan
sesuatu, dan kecerdasan secara verbal.
b.
Kelompok kelas
bawah laki-laki
lebih seperti mempercayai pada takdir dan supra natural yang
menyatakan bahwa hal bagus akan terjadi dan hal jelek tidak akan terjadi.
Mereka juga dipandang lebih bergantung pada yang lainnya dibandingkan dengan
kelompok menengah.
c.
Kelompok
menengah laki-laki
menunjukkan secara signifikan lebih puas dengan situasi kehidupan mereka dan
mempunyai nilai lebih tinggi dalam menguasai hubungan antar personal atau individu.
d.
Kelompok menengah
perempuan lebih cerdas, lebih puas, dan kurang apatis dari kelompok bawah
perempuan, mereka juga anti taradisionalistic, lebih tinggi kemandiriannya
dalam memutuskan, dan lebih tinggi dalam kepercayaan bahwa setiap tindakan ada
konekwensinya. Mereka juga lebih mandiri dibanding kelompok bawah perempuan.
e.
Ada kekurangan
yang bisa diperhatikan pada perbedaan individu atau kepribadian antara kelas bawah laki-laki dan kelas bawah perempuan.
f.
Pada kelompok
menengah, laki-laki
memiliki nilai lebih tinggi dari pada perempuan dalam pengetahuan atau orientasi mengenai masa depan,
pesimis atau kurang
percaya diri, penguaaan dalam hubungan antar personal, percaya diri, dan merasa
pantas atau kepantasan
diri.untuk bagiannya, kelas
menengah perempuan mempunyai nilai lebih tinggi pada kepercayaan bahwa nasib
menguasai segala-galanya, optimis, puas secara umum, ketakutan atau kegelisahan, kebutuhan untuk
mencari kepastian.
Dalam
proses membuat keputusan yang diakibatkan oleh kepribadian seseorang, Chris
Argyris mensurvai 165 top manager dari 6 perusahaan, yang hasilnya:
a.
Ambil resiko
atau bereksperimen atau mencoba
dengan ide atau gagasan-gagasan baru atau perasaan-perasaan baru.
b.
Membantu orang
lain untuk mengaku sepenuhnya, terbuka, dan ambil resiko
c.
Menggunakan model
tingkah laku yang mendukung aturan individu dan percaya sama bagusnya dengan
ketidak percayaan.
d.
Mengekspresikan
perasaan baik positive maupun negativ.
Pembuat
keputusan akan melakukan yang terbaik
untuk menyadari pentingnya kepribadian dalam proses pemilihan dan membiarkannya
bebas berekspresi dalam memberikan kontribusi secara positive untuk kepuasan
secara individu dan pengeluaran agar bisa diterima lebih siap dengan
senang
hati oleh individu-individu
yang dikenai keputusan.
B. Kecenderungan Resiko dalam Perilaku Pilihal
Berdasarkan gambar pada halaman 6, dapat diambil
keterangan seperti:
Bagian
kiri artinya; keinginan/pengeluaran/hasil
Bagian
bawah ; kemungkinan sukses
Bagian
kanan; kecenderungan untuk menerima resiko
Bagian
dalam: kecenderungan untuk melawan/menolak/memperkecil resiko
Bisa dianalisa sebagai dua pembuat keputusan yang
memiliki kepribadian yang berbeda, pembuat keputusan pertama mempunyai
kecenderungan yang tinggi untuk menerima resiko. Dia mengasosiasikan penerimaan
resiko dengan keinginan pengeluaran yang tinggi. Baginya resiko dan penghargaan
dikorelasikan positive untuk beberapa point/hal dimana lebih jauh penerimaan
resiko menjadi tidak bisa ditoleransi.
Artinya, pembuat keputusan lebih suka membuat pilihan dimana keinginan pada pengeluaran tertinggi dan di mana melakukan ketidakpastian pada kesuksesan tertinggi. Itulah
mengapa, dia yang
pertama, dan pilihan yang lebih disukai akan berada pada poin A pada bagan.
Pada pion ini dia akan mengalami kombinasi paling tinggi, seimbang antara
kemungkinan berhasil/sukses dan keinginan pengeluaran yang terbagus.
Kecenderungan dari A ke B
Dia bisa mendapatkan pengalaman dan informasi yang
lebih untuk keinginan yang
paling tinggi. Pilihan menunjukkan kesuksesan/keberhasilan yang menurun dan outcome/pengeluaran
menjadi low atau rendah ke point D
Kecenderungan dari A ke C
Menunjukkan keberhasilan yang meningkat dan
outcome/pengeluaran yang lebih tinggi. Pembuat keputusan yang ke dua ( diterangkan
sebaliknya dengan kode E, H, J, G F)
C. Persepsi dalam Pengambilan Keputusan
Salah satu faktor dasar dalam pengambilan keputusan adalah proses
persepsi. Persepsi ini meliputi
kemampuan seseorang untuk membuat sejumlah fakta dan informasi
secara terbatas dan
menerapkannya dalam gambaran yang menyeluruh. Lebih banyak interaksi dan informasi yang tersedia dan persepsi akan menjadi lebih jelas dan mudah
digambarkan. Persepsi
seseorang juga dipengaruhi
oleh tindakan tertentu.
Dapat
disimpulkan bahwa persepsi seseorang akan dipengaruhi oleh keberadaan seseorang
di mana dia melihat situasi, fakta, atau suatu tindakan.
Proses persepsi (tiga element dasar atau primer)
1.
Selectivity yaitu di mana informasi-informasi tertentu dipisahkan
untuk pertimbangan
lebih jauh dan disesuaikan dengan permasalahan yang ada.
2.
Closure yaitu di mana informasi yang ada dikumpulkan untuk mendapatkan
maksud yang lengkap.
3.
Interperetation yaitu di mana pengalaman sebelumnya digunakan sebagai alat untuk mempertimbangkan
informasi yang dikumpulkan.
Hasil dari interaksi
elemen-elemen tersebut adalah suatu perilaku seseorang dalam memilih informasi
yang memberikan respon pada seseorang untuk memilih tindakan yang tepat dalam
mengambil suatu keputusan beserta resiko yang ada yang bisa diterima untuk
diantisipasi dengan tepat.
Bergen membagi proses
persepsi menjadi 4 yang meliputi:
1. Karakter rangsangan yang diteliti,
2. Persepsi pertanyaan pada penelitian,
3. Isi konten dari rangsangan penelitian,
4. Sesuatu yang menjadi rangsangan.
Karakter menurut Zalkird and Costello adalah sebagai kepentingan
tunggal, setiap individu memiliki aturan di mana dia memiliki pertimbangan
lainnya seperti:
1. Mengetahui diri sendiri membuat persepsi menjadi mudah untuk dilihat
secara akurat,
2. Karakter yang dimiliki seseorang mempengaruhi karakter lainnya,
3. Seseorang yang bisa menerima diri sendiri, akan dapat mengetahui
aspek-aspek baik pada orang lain,
4. Ketepatan dalam melihat persepsi pada orang lain bukan hanya merupakan
keterampilan tunggal, para pembuat keputusan merasakan persepsi yang lainnya
sama seperti dirinya.
Karakter-karakter yang dapat mempengaruhi persepsi dalam pengambilan
keputusan:
1. Status seseorang.
2. Jabatan, jabatan tinggi seseorang dipertimbangkan sebagai keinginan
untuk bekerja sama. Sedangkan jabatan rendah dipandang sebagai suatu keharusan
untuk bekerja sama. Lebih menyenangkan cenderung ditunjukkan untuk orang yang
jabatannya tinggi daripada yang jabatnnya rendah,
3. Peraturan suatu organisasi juga mempengaruhi suatu persepsi, sebagai
contoh penmbuat keputusan mungkin merespon hal yang sama dengan cara yang
berbeda pada organisasi yang berbeda,
4. Visibility traits akan mempengaruhi
ketepatan pertimbangan.
Persepsi yang mempengaruhi pengambilan keputusan meliputi:
1. Stereo typing “simple picture in our head” merupakan gambaran sederhana di benak
kepala, yang memberitahu kita mengenai seseorang pada kelempok tertentu untuk
kita memusatkan perhatian.
2. The halo effect, contoh: seorang professor
dengan kepercayaan penuh pada mahasiswa yang sangat rajin dating kemudian
menurun kepercayaannya pada mahasiswa yang dating di kelas dengan tidak
disiplin.
3. Projection, merupakan karakter yang
dimiliki seseorang yang sudah melekat atau dikenal oleh orang lain.
4. Perceptual defense, merupakan situasi yang
berhubungan dengan waktu pembuat keputusan yang dihadapkan dengan kenyataan
atau kejadian yang tidak tetap.
Hubungan antar individu yang mempengaruhi proses pengambilan keputusan
meliputi: tekanan social (status suatu kelompok), aspirasi social, penerimaan
keputusan. Contoh: jika seseorang melayani pemimpin pada suatu kelompok, dia
akan dianggap sebagai anggota yang lain mengenai nilai atau karakter sikap
dalam kelompok tersebut.
D. Pengaruh Alam Bawah Sadar dalam Pengambilan Keputusan
Dalam konteks pengambilan
keputusan, seseorang mungkin bisa berfikir di bawah alam sadar dan hal itu
dianggap tidak realistis. Pada tingkat sadar, apakah kita benar-benar berfikir
dan bisa memberi alasan pada suatu hal secara bertahap. Tetapi pada tingkat
bawah sadar, psikis atau emosi dapat mempengaruhi proses berfikir kita.
Kemudian seseorang merasa bahwa pemikiran tertentu muncul tanpa harus tahu
“mengapa”. Jika pemikiran ini muncul pada seseorang, mungkin akan menjadi
nyata.
Pada kenyataannya seseorang
akan selalu mencoba, ketika pikiran berada di bawah alam sadar muncul dan akan
membawa atau mewujudkannya menjadi bentuk yang nyata, pikiran yang nyata itu
akan menjadi seimbang antara keduanya.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dalam proses pengambilan
keputusan, seorang pimpinan juga perlu memperhatikan konteks psikologi, karena
dengan demikian pemimpin dapat mendeskripsikan setting yang dipelajari,
aktivitas-aktivitas yang berlangsung, orang-orang yang terlibat di dalamnya,
dan makna kejadian yang dilihat dari perspektif mereka. Konteks psikologi di
sini meliputi, determinan pilihan, resiko, persepsi, dan pengaruh alam bawah
sadar individu.
Perlu diperhatikan bahwa setiap keputusan menuntut penafsiran dan
evaluasi terhadap informasi. Karena itu, data yang diterima perlu disaring,
diproses, dan ditafsirkan. Pembuat keputusan perlu
memperhatikan kepribadian atau perilaku sebagai determinan dalam melakukan
pilihan untuk mengambil keputusan. Keputusan bisa terjadi secara sadar dan
tidak sadar, dalam mengambil keputusanpun pimpinan harus memperhatikan resiko
atau dampak yang mungkin terjadi.
Saran
Seorang pimpinan
satuan pendidikan maupun organisasi hendaknya tidak melupakan konteks psikologi
dalam mengambil keputusan, karena konteks tersebut memiliki pengaruh terhadap
keputusan yang akan diambil.
DAFTAR PUSTAKA
Drugmmond, H.,
1993. Effective Decision Making: A Practical Guide for Management. London:
Kogan Page Limited.
Harrison, E.F.,
1992, The Managerial Decision-Making Process. Boston: Houghton Miffin Company.
siiiip.. ijin share ya
BalasHapus