BOOK REPORT
MATA KULIAH
PERENCANAAN PENDIDIKAN
Dosen Pengampu:
Dr. Nurkolis, M.M.
Dr. Noor Miyono, M.Si.
OLEH
|
NAMA
Akhmad Nasikin
Amalia Permata Dewi
Mukh Khusnaini
|
NPM
13510038
13510085
13510029
|
PROGRAM PASCASARJANA (S-2)
IKIP PGRI SEMARANG
2014
EVALUASI,
IMPLEMENTASI DAN
MONEV
PERENCANAAN PENDIDIKAN
A.
Pengertian Evaluasi Perencanaan Pendidikan
Evaluasi
pada dasarnya menegaskan begitu pentingnya perencanaan pendidikan dan
hasil-hasil potensialnya sesuai dengan kebutuhannya. Perencanaan pendidikan
harus mengetahui nilai-nilai relative yang dimasukan ke dalam berbagai sasaran
yang dibuat untuk perencanaan. Beberapa evaluasi komparatif dibuat jika sebuah
perubahan muncul yang diakubatkan oleh tindakan yang direncanakan. Akibatnya
mungkin dapat diantisipasi atau tidak dapat diantisipasi, tetapi mungkin dapat
dievaluasi hanya berkaitan dengan hasil-hasilnya.
Menurut
Stufflebeam, dkk. (1997), evaluasi merupakan the process of delineating,
obtaining, and providing useful information for judging decision alternatives,
Iartinya evaluasi merupakan proses menggambarkan, memperoleh, dan
menyajikan informasi yang berguna untuki
merumuskan suatu alternative keputusan.
Menurut
Cunningham dalam buku Perencanaan Pendidikan Partisipatori Perencanaan adalah menyeleksi
dan menghubungkan pengetahuan, fakta-fakta, imajinasi-imajinasi, dan
asumsi-asumsi untuk masa yang akan datang untuk tujuan mengevaluasi dan
menginformasi hasil yang diinginkan, urutan kegiatan yang diperlukan, dan
perilaku dalam batas-batas yang dapat diterima yang akan digunakan dalam
penyelesaian.
Prof.
Dr. made Pidarta. (2005: 1). Perencanaan pendidikan didasari oleh beberapa
konsep, di dalam buku perencanaan pendidikan partisipori disebutkan
konsep-konsep itu meliputi, perubahan lingkungan pendidikan, ciri-ciri system
yang akan dipakai dalam perencanaan, dan beberpaa teori perencanaan.
Banghart,
FW and Trull, A. (1973). Berikut ini adalah jenis tujuan untuk perencanaan pendidikan :
1.
Pendidikan harus membantu memecahkan masalah sosial, fisik dan keuangan yang saat ini
mencegah kelompok-kelompok minoritas dari aktif berpartisipasi dalam urusan
masyarakat.
2.
Pendidikan harus mendorong individualitas, dengan menyediakan individu dengan
kapasitas untuk membuat keputusan sendiri.
3.
Pendidikan harus menyediakan arena besar pemahaman dan respon bagi orang-orang dari pekerjaan yang berbeda, warna, kelas atau keyakinan.
4.
Pendidikan harus mempersiapkan lapangan
kerja.
Tujuan juga berbeda dalam kemungkinan waktu yang dibutuhkan untuk pencapaian mereka .
Tujuan juga berbeda dalam kemungkinan waktu yang dibutuhkan untuk pencapaian mereka .
Contoh untuk perencanaan pendidikan jangka pendek ( 5-10
th ) dalam membangun dua sekolah dasar pembentukan bagian perencanaan
pendidikan dengan satu perencana umum, dua perencana fisik, salah satu
perencana sosial, salah satu perencana ekonomi, salah satu spesifikasi penulis
dan satu sekretaris. Sebuah tujuan untuk perencanaan pendidikan jangka menengah ( 10-15 th ) bisa memperoleh enam lokasi untuk fasilitas pendidikan baru
menyelesaikan studi kelayakan untuk membangun bagian perencanaan pendidikan.
Untuk perencanaan pendidikan jangka panjang ( 15-20 th ) tujuan mungkin untuk melakukan
perubahan ekstensif pada program kurikulum ilmu atau mengganti fasilitas lama
dengan enam pusat sekolah ditempatkan secara strategis dalam area dari populasi yang tinggi.
Ketiga berbagai kegiatan perencanaan di atas dapat ditambahkan tujuan yang terkait dengan orang-orang, tempat, gerakan,
economice dan kegiatan. Terlepas dari pengaturan subjek, pengukuran dalam
bentuk standar untuk masing-masing harus hati-hati dalam menententukan, prosedur tersebut baru-baru ini dikritik karena tidak fleksibel dan, terdapat banyak masalah, tidak akurat.
Menurut
Banghart and Trull (1997) Perencanaan pendidikan adalah proses yang rasional dalam pengembangan aktivitas
belajar masyarakat yang terorganisir.
Perencanaan
pendidikan berkaitan dengan tujuan-tujuan masyarakat, cara dan tujuan akhir
atau hasil, proses dan pengendalian.
Perencanaan
pendidikan adalah suatu konsep yang dinamis, tujuan dinyatakan secara jelas,
prosedur disusun rinci, dan modifikasi
prosedural dibuat berdasarkan informasi balikan kepada pengambil kepu- tusan
dan selanjutnya rencana diperbarui.
Tujuan dapat dijelaskan melalui dialog antara perencana
pendidikan dan masyarakat atau yang mewakili, dewan sekolah. Langkah pertama
untuk perencana pendidikan adalah melalui studi pers, radio dan televisi
materi yang relevan, pernyataan publik, kelompok perwakilan, dan pemahaman
tentang pola dan tren yang berlaku. Dari sumber-sumber tersebut, banyak
informasi yang telah
diperoleh. Sumber lain
adalah kemampuan perencana pendidikan untuk merasakan aspirasi. Pada akhirnya
sumber yang baik adalah dialog langsung dengan mereka yang terlibat dalam
proses pendidikan.
Perencana pendidikan harus mempersiapkan tujuan
dan sasaran . Untuk setiap tujuan dan sasaran, efek yang diharapkan harus memberi jalan keluar,
tidak hanya untuk sistem pendidikan secara keseluruhan, tetapi untuk sesi
signifikan, seperti orang, tempat, gerakan, ekonomi dan kegiatan.
Di
dalam situasi yang demokratis sebuah kepentingan umum mungkin terlibat secara
samar-samar, untuk masyarakat yang beragam dapat diterapkan tanpa memandang
kepentingan individu. Dengan demikian evaluasi dapat muncul dalam tiga cara:
1.
Cara pandang utilitarian;
2.
Cara quasi utilitarian;
3.
Cara individu yang berkualitas.
Mekanisme
sebaiknya dipilih untuk pengevaluasian, sehingga hasilnya menjadi sangat memuaskan.
Beberapa metode identifikasi nilai telah tersedia yang berisi mengenai opini
masyarakat, survey antropologi dan dengar pendapat, interview dengan pemimpin
non formal, analisis yang menekankan isi, belajar ukuran dan undang-undang
pembelajaran baru, tingkah laku administrative dan pembelajaran dan anggaran
sekolah terdahulu. Karena evaluasi menggunakan keseluruhan urutan pendidikan,
gagasan berkaitan dengan sasaran yang tepat sangat bergantung pada inti masalah
tugas perencanaan pendidikan yang diberikan.
1.
Mengevaluasi Aktivitas Pendidikan
Saud, US., dan
Abin SM. (2005: 223-224). Terdapat 5 (lima) faktor penting dalam setiap
aktivitas pendidikan, yaitu:
a.
Tempat aktivitas;
b.
Waktu aktivitas;
c.
Orang yang terlibat dalam aktivitas itu;
d.
Sumber daya yang diperlukan untuk aktivitas tersebut;
e.
Proses pelaksanaan aktivitas.
Berbicara
tentang tempat, tidak mungkin dilepaskan dari masalah geografi. Suatu aktivitas
harus dilakukan di suatu tempat tidak di mana saja, karena aktivitas merupakan
suatu system upaya individu yang memiliki suatu lokasi fisik.
Aspek
lain dalam evaluasi adalah yang berkaitan dengan waktu. Penjadwalan aktivitas
merupakan aktivitas paling kompleks yang memerlukan evaluasi, karena metode
yang diperlukan oleh aktivitas ini sama dengan kasus-kasus lainnya yang
berkaitan dengan alokasi waktu. Orang yang terlibat dalam aktivitas, pengalaman
mereka, bentuk organisasi, gedung, kelompok formal, dan informal, dan
komunikasi antara individu atau kelompok juga kepentingan individu, loyalitas,
prestasi, kebanggaan, dan tanggung jawab semuanya penting dalam evaluasi.
Tujuan aktivitas harus ikut dievaluasi.
2.
Mengevaluasi Lingkungan Pendidikan
Saud,
US., dan Abin SM. (2005: 224). Lingkungan hendaknya memungkinkan siswa
menemukan disiplinnya sendiri. Keberhasilan tujuan ini bisa dievaluasi.
Lingkungan sekolah hendaknya membentuk sejumlah peluang yang jelas bagi siswa
untuk menggali dan mendalami. Lingkungan hendaknya melibatkan perubahan untuk
memahami pilihan yang disediakan dan kesempatan untuk terus mencoba cara baru,
serta mengkombinasikan informasi dalam menciptakan pengalaman baru.
Skema
evaluasi sederhana dapat disusun dari setiap aspek interaksi, misalnya siswa,
stimulus, pesan, proses pembelajaran, pengaruh, dan tanggungjawab dan umpan
balik dapat dievaluasi dan diperiksa dalam membantu perencana pendidikan
merencanakan lingkungan pembelajaran yang efektif.
|
Effector
|
|
Learning Proses
|
|
Student
|
B.
Implementasi Perencanaan Pendidikan
Prof. Dr. Made Pidarta (2005:
127-131). Bila pemilihan alternative pemecahan sudah selesai untuk setiap
tugas, maka konsep perencanaan itu telah siap untuk diimplementasikan.
Implementasi artinya suatu usaha
untuk mencoba konsep tersebut. Perencanaan itu tidak mesti satu kali diuji
cobakan langsung berhasil. Implementasi artinya suatu usaha untuk mencoba
konsep tersebut. Perencanaan itu tidak mesti satu kali diuji cobakan langsung
berhasil.
Sebelum
melakukan implementasi perlu mengadakan persiapan terlebih dahulu. Persiapan
itu dikenal dengan nama action planning yang menyiapkan hal-hal:
1.
Menentukan kunci konsep implementasi seperti objek, metode, alat,
pelaksana, dan sebagainya,
2.
Mengantisipasi kemungkinan hal-hal yang negative atau positif yang
akan terjadi,
3.
Memprediksi hasil dan efek bagi semua pihak,
4.
Mempertimbangkan kemungkinan perubahan-perubahan biaya dan waktu,
dan kemungkinan ada sumber biaya baru,
5.
Menyiapkan tahapan-tahapan kegiatan pada setiap tugas,
6.
Menyiapkan perbekalan,
7.
Menyiapkan transportasi dan sebagainya.
Membentuk
standar performan
Bagan di atas merupakan bagan perencanaan yang dilakukan
implementasi dua kali. Selama implementasi berlangsung para perencana memonitor
kegiatan melakukan evaluasi, baik secara
incidental maupun secara berkala. Bila mereka menemukan kegiatan-kegiatan yang
tidak sesuai dengan konsep perencanaan segera pelaksana diberi tahu agar tepat
dengan rencana. Oleh sebab itu selama implementasi berlangsung
pertemuan-pertemuan diadakan secara berkala terutama untuk memecahkan
masalah-masalah. Di samping itu hasil-hasil monitoring dengan usaha-usaha
pelurusan yang diadakan dan hasil-hasil evaluasi juga dibahas.
Bila implementasi sudah sampai pada waktunya, maka implementasi
dihentikan untuk sementara. Hasil monitoring dan hasil evaluasi baik yang
incidental, berkala, maupun evalausi akhir dikumpulkan dan dibahas bersama oleh
para perencana.
C.
Monitoring dan Evaluasi Perencanaan Pendidikan
Saud,
US., dan Abin SM. (2005: 206-215). Memonitor perencanaan yang sedang
berlangsung memungkinkan suatu alat pengendalian yang baik dalam seluruh proses
implementasi. Monitoring Pertama outputnya hanya merupakan apa yang
diprediksikan oleh perencana, yang kedua perencana pendidikan memiliki dua
pilihan yaitu: (1) menggunakan semua upaya di bawah komandonya untuk
menunjukkan tindakan-tindakan yang diperlukan untuk meletakkan system tersebut
kembali ke jalurnya, (2) mempertimbangkan perlunya mempertahankan jalur yang
menyimpang dan memikirkan dari awal lagi mengenai tujuan utama dari perencanaan
pendidikan komprehensif dalam kaitannya dengan pengembangan yang belum tampak.
Penjadwalan
dapat dilakukan untuk mengidentifikasi setiap aktivitas yang dilaksanakan dan
pendekatan komprehensif. Teknik penjadwalan antara lain: (a) critical path
method, dan (b) program evaluation research task. Adapun diagram
yang digunakan untuk penjadwalan monitoring, yaitu; (a) diagram Grant,
(b) diagram PERT, dan (c) diagram Precedence.
Evaluasi
pada dasarnya menegaskan begitu pentingnya perencanaan pendidikan dan
hasil-hasil potensialnya sesuai dengan kebutuhannya.
1.
Konsep Evaluasi dengan Utilitas
Saud,
US., dan Abin SM. (2005: 225). Konsep ini menunjukan penilaian subjektif.
Secara khusus utilitas ini merupakan suatu kecenderungan atau preferensi
pribadi. Sifat subjektif dari utlitas ini jelas memperlambat investigasi
sistematis dari hakikat utilitas.
Konsep
utilitas ini mengandung tiga karakteristik, yaitu: (1) ungkapan preferensi
pribadi, dan (2) sejumlah alternative yang memungkinkan melalui (3) alokasi
sumber daya yang sesuai berdasarkan utilitasnya. Perencana pendidikan dan
prosedur perencanaan pendidikan mengatasi berbagai evaluasi yang membingungkan
dengan penggunaan dan konsep utilitas. Ini merupakansuatu alat evaluasi yang
dapat menentukan nilai unik yang berkaitan dengan setiap proyek perencanaan
pendidikan.
2.
Desain Evaluasi
Sarbini
dan Neneng Lina. (2011: 242). Sebelum melakukan desain evaluasi, terlebih
dahulu dilakukan focus evaluasi, yaitu mengkhususkan apa dan bagaimana evaluasi
akan dilakukan. Apabila evaluasi sudah terfokus, berarti proses dan desain
dimulai. Ada tiga elemen dalam proses pemfokusan, yaitu: mempertemukan
pengatahuan dan harapan, mengumpulkan informasi, dan merumuskan rencana
evaluasi.
Komponen-komponen
dalam melakukan evaluasi:
a.
Tujuan yang ditetapkan oleh pengambil keputusan dan diberitahukan
kepada pelaksana;
b.
Kegiatan semua aktivitas yang dilakukan untuk mencapai tujuan;
c.
Sarana fasilitas penunjang kegiatan;
d.
Hasil keluaran sebagai akibat dari kegiatan.
Sarbini dan Neneng Lina. (2011: 243). Hal-hal yang perlu
diperhatikan dalam menyusun langkah-langkah penyusunan desain:
a.
Latar belakang;
b.
Problematika;
c.
Tujuan evaluasi;
d.
Populasi dan sampel;
e.
Instrument dan sumber data;
f.
Teknik analisis data.
3.
Langkah-langkah penyusunan instrument evaluasi
Sarbini
dan Neneng Lina. (2011: 243). Langkah-langkah yang harus dilalui dalam menyusun
instrumen evluasi adalah sebagai berikut:
a.
Merumuskan tujuan yang akan dicapai dengan instrumen yang akan
disusun;
b.
Membuat kisi-kisi yang mencanangkan perincian variable dan jenis
insrumen yang akan digunakan untuk mengukur bagian variable yang bersangkutan;
c.
Membuat butir-butir instrument.
4.
Kriteria Evaluator
Sarbini dan
Neneng Lina. (2011: 244). Kriteria keberhasilan terutama bagi evaluator program
adalah sebagai berikut:
a.
Memahami Mated,
b.
Mengasai Teknik,
c.
Objektif dan Cermat,
d.
Jujur dan Dapat Dipercaya
5.
Model-model Evaluasi
Sarbini
dan Neneng Lina. (2011: 235-236). Berikut diuraikan beberapa model evaluasi
perencanaan yang masih dipakai:
a.
CIPP (Context Input Process Product), merupakan salah satu
evaluasi yang dapat dikatakan cukup memadai, model ini dikembangkan oleh Daniel
L. STufflebeam dkk. (1997) di Ohio University. Setiap tipe evaluasi terikat
pada perangkat pengambilan keputusan yang menyangkut perencanaan dan operasi
sebuah progam.
b.
Evaluasi Konteks, meliputi analisis masalah yang berhubungan dengan
lingkungan program yang dilaksanakan, yang secara khusus berpengaruh pada
konteks masalah yang menjadi komponen dalam program.
c.
Model Kesenjangan, adalah keadaan antara yang diharapkan dalam
rencana dan yang dihasilkan dalam pelaksanaan. Evaluasi ini dimaksudkan untuk
mengetahui tingkat kesesuaian antara standar yang sudah ditentukan dalam
program dengan penampilan actual dari program tersebut.
CATATAN
Banghart, FW
and Trull, A. (1973). Educational Planning. New York: The Macmillan
Company.
PERBANDINGAN
Neneng Lina dan
Sarbini. (2011). Perencanaan Pendidikan. Bandung: CV Pustaka Setia.
Pidarta Made.
(2005). Perencanaan Pendidikan Partisipatori dengan Pendekatan Sistem (edisi
revisi). Jakarta: PT Asdi Mahasatya.
Sa’ud US dan
Abin Syamsuddin Makmun. (2005). Perencanaan Pendidikan Suatu Pendekatan
Komprehensif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.
Soenaryo
Endang. (2000). Teori Perencanaan Pendidikan Berdasarkan Pendekatan Sistem.
Yogyakarta: Adicita Karya Nusa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar