Minggu, 03 Mei 2015

EVALUASI, IMPLEMENTASI DAN MONEV PERENCANAAN PENDIDIKAN


BOOK REPORT
MATA KULIAH
PERENCANAAN PENDIDIKAN


Dosen Pengampu:
Dr. Nurkolis, M.M.
Dr. Noor Miyono, M.Si.

 








OLEH
NAMA
Akhmad Nasikin
Amalia Permata Dewi
Mukh Khusnaini
NPM
13510038
13510085
13510029


PROGRAM PASCASARJANA (S-2)
IKIP PGRI SEMARANG
2014


EVALUASI, IMPLEMENTASI DAN
MONEV PERENCANAAN PENDIDIKAN

A.      Pengertian Evaluasi Perencanaan Pendidikan
Evaluasi pada dasarnya menegaskan begitu pentingnya perencanaan pendidikan dan hasil-hasil potensialnya sesuai dengan kebutuhannya. Perencanaan pendidikan harus mengetahui nilai-nilai relative yang dimasukan ke dalam berbagai sasaran yang dibuat untuk perencanaan. Beberapa evaluasi komparatif dibuat jika sebuah perubahan muncul yang diakubatkan oleh tindakan yang direncanakan. Akibatnya mungkin dapat diantisipasi atau tidak dapat diantisipasi, tetapi mungkin dapat dievaluasi hanya berkaitan dengan hasil-hasilnya.
Menurut Stufflebeam, dkk. (1997), evaluasi merupakan the process of delineating, obtaining, and providing useful information for judging decision alternatives, Iartinya evaluasi merupakan proses menggambarkan, memperoleh, dan menyajikan informasi yang berguna untuki  merumuskan suatu alternative keputusan.
Menurut Cunningham dalam buku Perencanaan Pendidikan Partisipatori Perencanaan adalah menyeleksi dan menghubungkan pengetahuan, fakta-fakta, imajinasi-imajinasi, dan asumsi-asumsi untuk masa yang akan datang untuk tujuan mengevaluasi dan menginformasi hasil yang diinginkan, urutan kegiatan yang diperlukan, dan perilaku dalam batas-batas yang dapat diterima yang akan digunakan dalam penyelesaian.
Prof. Dr. made Pidarta. (2005: 1). Perencanaan pendidikan didasari oleh beberapa konsep, di dalam buku perencanaan pendidikan partisipori disebutkan konsep-konsep itu meliputi, perubahan lingkungan pendidikan, ciri-ciri system yang akan dipakai dalam perencanaan, dan beberpaa teori perencanaan.
Banghart, FW and Trull, A. (1973). Berikut ini adalah jenis tujuan untuk perencanaan pendidikan :
1.      Pendidikan harus membantu memecahkan masalah sosial, fisik dan keuangan yang saat ini mencegah kelompok-kelompok minoritas dari aktif berpartisipasi dalam urusan masyarakat.
2.      Pendidikan harus mendorong individualitas, dengan menyediakan individu dengan kapasitas untuk membuat keputusan sendiri.
3.      Pendidikan harus menyediakan arena besar pemahaman dan respon bagi orang-orang dari pekerjaan yang berbeda, warna, kelas atau keyakinan.
4.      Pendidikan harus mempersiapkan lapangan kerja.
Tujuan juga berbeda dalam kemungkinan waktu yang dibutuhkan untuk pencapaian mereka .
Contoh untuk perencanaan pendidikan jangka pendek ( 5-10 th ) dalam membangun dua sekolah dasar pembentukan bagian perencanaan pendidikan dengan satu perencana umum, dua perencana fisik, salah satu perencana sosial, salah satu perencana ekonomi, salah satu spesifikasi penulis dan satu sekretaris. Sebuah tujuan untuk perencanaan pendidikan jangka menengah ( 10-15 th ) bisa memperoleh enam lokasi untuk fasilitas pendidikan baru menyelesaikan studi kelayakan untuk membangun bagian perencanaan pendidikan. Untuk perencanaan pendidikan jangka panjang ( 15-20 th ) tujuan mungkin untuk melakukan perubahan ekstensif pada program kurikulum ilmu atau mengganti fasilitas lama dengan enam pusat sekolah ditempatkan secara strategis dalam area dari populasi yang tinggi.
Ketiga berbagai kegiatan perencanaan di atas dapat ditambahkan tujuan yang terkait dengan orang-orang, tempat, gerakan, economice dan kegiatan. Terlepas dari pengaturan subjek, pengukuran dalam bentuk standar untuk masing-masing harus hati-hati dalam menententukan, prosedur tersebut baru-baru ini dikritik karena tidak fleksibel dan, terdapat banyak masalah, tidak akurat.
Menurut Banghart and Trull (1997) Perencanaan pendidikan adalah proses  yang rasional dalam pengembangan aktivitas belajar masyarakat yang terorganisir.
Perencanaan pendidikan berkaitan dengan tujuan-tujuan masyarakat, cara dan tujuan akhir atau hasil, proses dan pengendalian.
Perencanaan pendidikan adalah suatu konsep yang dinamis, tujuan dinyatakan secara jelas, prosedur  disusun rinci, dan modifikasi prosedural dibuat berdasarkan informasi balikan kepada pengambil kepu- tusan dan selanjutnya rencana diperbarui.
Tujuan dapat dijelaskan melalui dialog antara perencana pendidikan dan masyarakat atau yang mewakili, dewan sekolah. Langkah pertama untuk perencana pendidikan adalah melalui studi pers, radio dan televisi materi yang relevan, pernyataan publik, kelompok perwakilan, dan pemahaman tentang pola dan tren yang berlaku. Dari sumber-sumber tersebut, banyak informasi yang telah diperoleh. Sumber lain adalah kemampuan perencana pendidikan untuk merasakan aspirasi. Pada akhirnya sumber yang baik adalah dialog langsung dengan mereka yang terlibat dalam proses pendidikan.
Perencana pendidikan harus mempersiapkan tujuan dan sasaran . Untuk setiap tujuan dan sasaran, efek yang diharapkan harus memberi jalan keluar, tidak hanya untuk sistem pendidikan secara keseluruhan, tetapi untuk sesi signifikan, seperti orang, tempat, gerakan, ekonomi dan kegiatan.
Di dalam situasi yang demokratis sebuah kepentingan umum mungkin terlibat secara samar-samar, untuk masyarakat yang beragam dapat diterapkan tanpa memandang kepentingan individu. Dengan demikian evaluasi dapat muncul dalam tiga cara:
1.      Cara pandang utilitarian;
2.      Cara quasi utilitarian;
3.      Cara individu yang berkualitas.
Mekanisme sebaiknya dipilih untuk pengevaluasian, sehingga hasilnya menjadi sangat memuaskan. Beberapa metode identifikasi nilai telah tersedia yang berisi mengenai opini masyarakat, survey antropologi dan dengar pendapat, interview dengan pemimpin non formal, analisis yang menekankan isi, belajar ukuran dan undang-undang pembelajaran baru, tingkah laku administrative dan pembelajaran dan anggaran sekolah terdahulu. Karena evaluasi menggunakan keseluruhan urutan pendidikan, gagasan berkaitan dengan sasaran yang tepat sangat bergantung pada inti masalah tugas perencanaan pendidikan yang diberikan.
1.        Mengevaluasi Aktivitas Pendidikan
Saud, US., dan Abin SM. (2005: 223-224). Terdapat 5 (lima) faktor penting dalam setiap aktivitas pendidikan, yaitu:
a.       Tempat aktivitas;
b.      Waktu aktivitas;
c.       Orang yang terlibat dalam aktivitas itu;
d.      Sumber daya yang diperlukan untuk aktivitas tersebut;
e.       Proses pelaksanaan aktivitas.
Berbicara tentang tempat, tidak mungkin dilepaskan dari masalah geografi. Suatu aktivitas harus dilakukan di suatu tempat tidak di mana saja, karena aktivitas merupakan suatu system upaya individu yang memiliki suatu lokasi fisik.
Aspek lain dalam evaluasi adalah yang berkaitan dengan waktu. Penjadwalan aktivitas merupakan aktivitas paling kompleks yang memerlukan evaluasi, karena metode yang diperlukan oleh aktivitas ini sama dengan kasus-kasus lainnya yang berkaitan dengan alokasi waktu. Orang yang terlibat dalam aktivitas, pengalaman mereka, bentuk organisasi, gedung, kelompok formal, dan informal, dan komunikasi antara individu atau kelompok juga kepentingan individu, loyalitas, prestasi, kebanggaan, dan tanggung jawab semuanya penting dalam evaluasi. Tujuan aktivitas harus ikut dievaluasi.
2.        Mengevaluasi Lingkungan Pendidikan
Saud, US., dan Abin SM. (2005: 224). Lingkungan hendaknya memungkinkan siswa menemukan disiplinnya sendiri. Keberhasilan tujuan ini bisa dievaluasi. Lingkungan sekolah hendaknya membentuk sejumlah peluang yang jelas bagi siswa untuk menggali dan mendalami. Lingkungan hendaknya melibatkan perubahan untuk memahami pilihan yang disediakan dan kesempatan untuk terus mencoba cara baru, serta mengkombinasikan informasi dalam menciptakan pengalaman baru.
Skema evaluasi sederhana dapat disusun dari setiap aspek interaksi, misalnya siswa, stimulus, pesan, proses pembelajaran, pengaruh, dan tanggungjawab dan umpan balik dapat dievaluasi dan diperiksa dalam membantu perencana pendidikan merencanakan lingkungan pembelajaran yang efektif.
Effector
Learning Proses
Student
 
stimulus                       message                                   message                    response

 



B.       Implementasi Perencanaan Pendidikan
Prof. Dr. Made Pidarta (2005: 127-131). Bila pemilihan alternative pemecahan sudah selesai untuk setiap tugas, maka konsep perencanaan itu telah siap untuk diimplementasikan.
Implementasi artinya suatu usaha untuk mencoba konsep tersebut. Perencanaan itu tidak mesti satu kali diuji cobakan langsung berhasil. Implementasi artinya suatu usaha untuk mencoba konsep tersebut. Perencanaan itu tidak mesti satu kali diuji cobakan langsung berhasil.
Sebelum melakukan implementasi perlu mengadakan persiapan terlebih dahulu. Persiapan itu dikenal dengan nama action planning yang menyiapkan hal-hal:
1.      Menentukan kunci konsep implementasi seperti objek, metode, alat, pelaksana, dan sebagainya,
2.      Mengantisipasi kemungkinan hal-hal yang negative atau positif yang akan terjadi,
3.      Memprediksi hasil dan efek bagi semua pihak,
4.      Mempertimbangkan kemungkinan perubahan-perubahan biaya dan waktu, dan kemungkinan ada sumber biaya baru,
5.      Menyiapkan tahapan-tahapan kegiatan pada setiap tugas,
6.      Menyiapkan perbekalan,
7.      Menyiapkan transportasi dan sebagainya.
Lama implementasi bergantung kepada proyek yang direncanakan. Dan jarang sekali perencanaan pendidikan langsug berhasil dalam satu kali implementasi, pada umumnya memakan waktu beberapa tahun untuk memberi hasil yang memadai.                                    Kebutuhan
Mengspesifikasi Tujuan                           Tujuan
                                                                                    Revieu
                                                                                    Mengimplementasi
Membentuk standar performan
                                                                                                   Menentukan alat dan metode



Bagan di atas merupakan bagan perencanaan yang dilakukan implementasi dua kali. Selama implementasi berlangsung para perencana memonitor kegiatan  melakukan evaluasi, baik secara incidental maupun secara berkala. Bila mereka menemukan kegiatan-kegiatan yang tidak sesuai dengan konsep perencanaan segera pelaksana diberi tahu agar tepat dengan rencana. Oleh sebab itu selama implementasi berlangsung pertemuan-pertemuan diadakan secara berkala terutama untuk memecahkan masalah-masalah. Di samping itu hasil-hasil monitoring dengan usaha-usaha pelurusan yang diadakan dan hasil-hasil evaluasi juga dibahas.
Bila implementasi sudah sampai pada waktunya, maka implementasi dihentikan untuk sementara. Hasil monitoring dan hasil evaluasi baik yang incidental, berkala, maupun evalausi akhir dikumpulkan dan dibahas bersama oleh para perencana.

C.       Monitoring dan Evaluasi Perencanaan Pendidikan
Saud, US., dan Abin SM. (2005: 206-215). Memonitor perencanaan yang sedang berlangsung memungkinkan suatu alat pengendalian yang baik dalam seluruh proses implementasi. Monitoring Pertama outputnya hanya merupakan apa yang diprediksikan oleh perencana, yang kedua perencana pendidikan memiliki dua pilihan yaitu: (1) menggunakan semua upaya di bawah komandonya untuk menunjukkan tindakan-tindakan yang diperlukan untuk meletakkan system tersebut kembali ke jalurnya, (2) mempertimbangkan perlunya mempertahankan jalur yang menyimpang dan memikirkan dari awal lagi mengenai tujuan utama dari perencanaan pendidikan komprehensif dalam kaitannya dengan pengembangan yang belum tampak.
Penjadwalan dapat dilakukan untuk mengidentifikasi setiap aktivitas yang dilaksanakan dan pendekatan komprehensif. Teknik penjadwalan antara lain: (a) critical path method, dan (b) program evaluation research task. Adapun diagram yang digunakan untuk penjadwalan monitoring, yaitu; (a) diagram Grant, (b) diagram PERT, dan (c) diagram Precedence.
Evaluasi pada dasarnya menegaskan begitu pentingnya perencanaan pendidikan dan hasil-hasil potensialnya sesuai dengan kebutuhannya.
1.        Konsep Evaluasi dengan Utilitas
Saud, US., dan Abin SM. (2005: 225). Konsep ini menunjukan penilaian subjektif. Secara khusus utilitas ini merupakan suatu kecenderungan atau preferensi pribadi. Sifat subjektif dari utlitas ini jelas memperlambat investigasi sistematis dari hakikat utilitas.
Konsep utilitas ini mengandung tiga karakteristik, yaitu: (1) ungkapan preferensi pribadi, dan (2) sejumlah alternative yang memungkinkan melalui (3) alokasi sumber daya yang sesuai berdasarkan utilitasnya. Perencana pendidikan dan prosedur perencanaan pendidikan mengatasi berbagai evaluasi yang membingungkan dengan penggunaan dan konsep utilitas. Ini merupakansuatu alat evaluasi yang dapat menentukan nilai unik yang berkaitan dengan setiap proyek perencanaan pendidikan.
2.        Desain Evaluasi
Sarbini dan Neneng Lina. (2011: 242). Sebelum melakukan desain evaluasi, terlebih dahulu dilakukan focus evaluasi, yaitu mengkhususkan apa dan bagaimana evaluasi akan dilakukan. Apabila evaluasi sudah terfokus, berarti proses dan desain dimulai. Ada tiga elemen dalam proses pemfokusan, yaitu: mempertemukan pengatahuan dan harapan, mengumpulkan informasi, dan merumuskan rencana evaluasi.
Komponen-komponen dalam melakukan evaluasi:
a.       Tujuan yang ditetapkan oleh pengambil keputusan dan diberitahukan kepada pelaksana;
b.      Kegiatan semua aktivitas yang dilakukan untuk mencapai tujuan;
c.       Sarana fasilitas penunjang kegiatan;
d.      Hasil keluaran sebagai akibat dari kegiatan.
Sarbini dan Neneng Lina. (2011: 243). Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun langkah-langkah penyusunan desain:
a.       Latar belakang;
b.      Problematika;
c.       Tujuan evaluasi;
d.      Populasi dan sampel;
e.       Instrument dan sumber data;
f.       Teknik analisis data.
3.        Langkah-langkah penyusunan instrument evaluasi
Sarbini dan Neneng Lina. (2011: 243). Langkah-langkah yang harus dilalui dalam menyusun instrumen evluasi adalah sebagai berikut:
a.       Merumuskan tujuan yang akan dicapai dengan instrumen yang akan disusun;
b.      Membuat kisi-kisi yang mencanangkan perincian variable dan jenis insrumen yang akan digunakan untuk mengukur bagian variable yang bersangkutan;
c.       Membuat butir-butir instrument.
4.        Kriteria Evaluator
Sarbini dan Neneng Lina. (2011: 244). Kriteria keberhasilan terutama bagi evaluator program adalah sebagai berikut:
a.       Memahami Mated,
b.      Mengasai Teknik,
c.       Objektif dan Cermat,
d.      Jujur dan Dapat Dipercaya
5.        Model-model Evaluasi
Sarbini dan Neneng Lina. (2011: 235-236). Berikut diuraikan beberapa model evaluasi perencanaan yang masih dipakai:
a.       CIPP (Context Input Process Product), merupakan salah satu evaluasi yang dapat dikatakan cukup memadai, model ini dikembangkan oleh Daniel L. STufflebeam dkk. (1997) di Ohio University. Setiap tipe evaluasi terikat pada perangkat pengambilan keputusan yang menyangkut perencanaan dan operasi sebuah progam.
b.      Evaluasi Konteks, meliputi analisis masalah yang berhubungan dengan lingkungan program yang dilaksanakan, yang secara khusus berpengaruh pada konteks masalah yang menjadi komponen dalam program.
c.       Model Kesenjangan, adalah keadaan antara yang diharapkan dalam rencana dan yang dihasilkan dalam pelaksanaan. Evaluasi ini dimaksudkan untuk mengetahui tingkat kesesuaian antara standar yang sudah ditentukan dalam program dengan penampilan actual dari program tersebut.


CATATAN
Banghart, FW and Trull, A. (1973). Educational Planning. New York: The Macmillan Company.
PERBANDINGAN
Neneng Lina dan Sarbini. (2011). Perencanaan Pendidikan. Bandung: CV Pustaka Setia.
Pidarta Made. (2005). Perencanaan Pendidikan Partisipatori dengan Pendekatan Sistem (edisi revisi). Jakarta: PT Asdi Mahasatya.
Sa’ud US dan Abin Syamsuddin Makmun. (2005). Perencanaan Pendidikan Suatu Pendekatan Komprehensif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.

Soenaryo Endang. (2000). Teori Perencanaan Pendidikan Berdasarkan Pendekatan Sistem. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar