Minggu, 03 Mei 2015

KONTEKS PSIKOLOGI DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN

KONTEKS PSIKOLOGI DALAM
PENGAMBILAN KEPUTUSAN


Mata Kuliah
Pengambilan Keputusan

Dosen Pengampu:
Dr. Muhdi, S.H., M.Hum.
Dr. Nurkolis, M.M.
Dr. Yovitha Yuliejantiningsih, M.Pd.







 Disusun Oleh:


  Mukh Khusnaini


: 13510029



PROGRAM PASCASARJANA (S-2)
UNIVERSITAS PGRI SEMARANG
2014




BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah
Keputusan merupakan hal yang tidak terpisahkan dalam setiap aktivitas sehari-sehari, apalagi di dalam sebuah organisasi keputusan sangat penting demi majunya suatu organisasi. Oleh karena itu setiap orang harus mampu mengambil keputusan yang menguntungkan bagi semua anggota organisasinya. Karena keputusan yang diambil itu akan berperan dalam rangka peningkatan mutu suatu organisasi sampai dengan tercapainya suatu tujuan yag ditetapkan.
B.  Rumusan Masalah
1.      Mengapa Kepribadian sebagai determinan pilihan?
2.      Bagaimana Kecenderungan resiko dalam perilaku pilihan?
3.      Bagaimana Persepsi dalam pengambilan keputusan?
4.      Bagaimana Pengaruh alam bawah sadar dalam pengambilan keputusan?
C.  Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini untuk: Memahami Kepribadian sebagai determinanan pilihan, Kecenderungan resiko dalam perilaku pilihan, Persepsi dalam pengambilan keputusan, dan Pengaruh alam bawah sadar dalam pengambilan keputusan.

 BAB II
PEMBAHASAN
A.  Kepribadian sebagai Determinan Pilihan
Kepribadian bisa diartikan sebagai semua tindakan dan pertimbangan seseorang dalam hubungannya dengan orang lain dan lingkungannya. Kepribadian adalah konsep suci yang ada pada diri seseorang seperti kualitas, gerakan hati, kebiasaan, ketertarikan, keyakinan dan sifat-sifat lain tergantung pada diri secara individu sebagaimana yang ia munculkan dalam kehidupan bermasyarakat.
Sigmund Freud  mengatakan bahwa:
1.    Manusia dikuasai oleh kemauan bawah sadar dan emosi,
2.    Mulai tahap awal masa kanak2 dari dasar terpenting untuk membentuk kepribadian seseorang menjadi dewasa.
Freud percaya bahwa seseorang dikuasai oleh dua pengendali utama:
1.    Life Instincts. Yang meliputi semua aktivitas positive dan membangun.
2.    Death/Hate Instincts. Yang meliputi aktivitas yang merusak atau negative.
Life Instincts dicontohkan seperti sifat lapar, haus, dan sex. Dan kekuatan energi yang meliputi aktivitas yang disebut dengan libido. Lebih luas ia mengatakan bahwa hampir semua tingkah laku diatur oleh suatu dasar yang disebut pengendali sex.
Menurut Freud kepribadian seseorang terbentuk dari id, ego, dan super ego.
Ø  Id meliputi pengendali dasar/utama yaitu kesenangan dan agresifitas seseorang.
Ø  Ego merupakan bagian nyata dari sistim bathin seseorang yang mencoba untuk mencari kepuasan dari keinginan yang berasal dari id ketika keterbatasan terjadi pada dunia secara nyata.
Ø  Super ego merupakan keberubahan/ketidak pestian dalam diri seseorang secara sosial dan moral pada sistim bathinnya.
Ø  Ketiganya bisa disimpulkan
Id                    : Dasar secara biologis
Ego                  : Ditentukan Oleh kenyataan bathin.
Super ego        : Diakibatkan oleh kebudayaan dan masyarakat.
Freud mengatakan tiga komponen tersebut merupakan konflik atau masalah yang berkelanjutan dan saling berkaitan yang bisa diselesaikan dengan berbagai keadilan atau pertimbangan pada kesadaran atau ketidaksadaran dengan menggunakan mekanisme pertahanan seperti, melihat keadaan yang sesungguhnya atau rasionalisasi, memindahkan persoalan pada jalurnya atau displacement, mengenali persoalan atau identifikation, dan menghilangkan atau menekan masalah yang tidak penting atau suppression, semua atau hanya satu dari semua hal tersebut bisa melepaskan tekanan atau mengurangi kegelisahan pada diri seseorang.
1.        Pendekatan kepribadian secara holistik
Teori-teori holistik menekankan tingkah laku secara menyeluruh dan berkaitan. Maslow Membagi  4 bagian pada hirarki kebutuhan manusia yang dikembangkan dari penelitian aspek-aspek positive dan optimistik yang mencakup semua fungsi yang ada pada manusia.
Carl Rogers membuat konsep: menjalankan secara individu pada bidang-bidang nyata dari pengalaman seseorang.
Sedangkan konsep dari Lewins yaitu field theory, menunjukkan sikap pribadi seseorang secara komplek pada suatu persepsi mengenai realitas atau kenyataan yang meliputi interaksi pada penekanan internal dan external setiap orang.
Beberapa teori tentang kepribadian akan membuat seseorang menjadi lebih berarti melalui pembelajaran yang luas dengan penelitian untuk mengetahui batasan perspektif atau pandangan pada berbagai dimensi setiap  pribadi dengan perhatian khusus pada proses secara keseluruhan dalam pengambilan keputusan.
2.        Persepsi ilmiah pada kepribadian
Hasil dari penelitian Brim Jr. Pendekatan yang digunakan pada penelitian Braim memberikan contoh bagus pada kombinasi atau gabungan antara trait atau sifat dan holistik teori kepribadian. Penemuan ini sangat berguna untuk pembuat keputusan. Penerapan secara umum untuk kepribadian sebagai suatu hal utama dalam proses membuat keputusan yang dihasilkan dari penelitian sebagai berikut:
a.         Tidak ada alasan meyakini bahwa setiap orang memiliki kemampuan yang sama pada semua fase pembuatan keputusan. Dengan kata lain hasilnya menyarankan bahwa banyak orang akan melakukan dengan benar dalam satu bagian pada suatu proses, dan orang lain juga akan melakukan hal yang lebih bagus pada bagian yang lainnya.
b.         Sifat-sifat kepribadian yang berbeda bisa disamakan dengan faktor-faktor proses keputusan yang berbeda, seperti keahlian, kecerdasan, atau pelatihan pd pembuat pilihan.
c.         Hubungan kepribadian dengan proses keputusan mungkin jauh berbeda diantara kelompok sosial pada faktor-faktor dasar seperti sex dan status sosial.
Penelitian Braim juga menilai sama dalam menghasilkan penemuan-penemuan khusus yang lebih awal penggunaannya pada pengaturan pembuat keputusan:
a.         Orang yang cenderung  bergantung pada orang lain akan lebih optimis melebihi tindakan yang ia keluarkan dan  mempertimbangkan lebih banyak  apa yang ia keluarkan dalam  mengevaluasi berbagai alternativ-alternativ atau kemungkinan-kemungkinan, dan akan kurang rasional dalam pemilihan urutan tindakan berdasarkan evaluasi awal atau sebelumnya.
b.         Ciri-ciri pembuatan keputusan yang berbeda dalam evaluasi  keinginan, kemungkinan, dan  waktu mengeluarkan tindakan  dihubungkan dengan akibat-akibat tingkat tinggi dan keinginan yang digenaralisasikan  untuk  suatu kepastian.
c.         Individu dari status sosial menegah menunjukkan memiliki dorongan batin (penindasan atau ketegaan) dan susunan emosi lebih besar dibandingkan dengan individu dari kelas bawah dan juga memiliki orientasi atau pengalaman yang lebih untuk memandang masa depan.
d.        Individu dari status sosial kelas bawah memiliki sedikit kepercayaan  diri dalam kemampuannya mengendalikan keinginan atau tujuan pribadinya dan lingkungannya, sedangkan individu dari kelas menengah lebih percaya diri, memandang dirinya pantas atau cukup pantas, dan dominan atau menguasai dalam hubungannya dengan orang lain.
Braim juga meneliti pengaruh perbedaan secara individu antara laki-laki dan perempuan dari dua kelompok individu kelas bawah dan menengah kelas dibedakan dari faktor-faktor sosial ekonomi seperti, posisi di masyarakat, pekerjaan, pendidikan, dan keturunan. Penemuannya adalah:
a.         Kelompok kelas menengah laki-laki, mempunyai nilai lebih tinggi dibandingkan dengan kelas bawah  pada orientasi atau pengetahuan mengenai waktu masa depan, kepercayaan pada kemungkinan hidup, kemandirian dalam memutuskan sesuatu, dan kecerdasan secara verbal.
b.         Kelompok kelas bawah laki-laki lebih seperti mempercayai pada takdir dan supra natural yang menyatakan bahwa hal bagus akan terjadi dan hal jelek tidak akan terjadi. Mereka juga dipandang lebih bergantung pada yang lainnya dibandingkan dengan kelompok menengah.
c.         Kelompok menengah laki-laki menunjukkan secara signifikan lebih puas dengan situasi kehidupan mereka dan mempunyai nilai lebih tinggi dalam menguasai hubungan antar personal atau individu.
d.        Kelompok menengah perempuan lebih cerdas, lebih puas, dan kurang apatis dari kelompok bawah perempuan, mereka juga anti taradisionalistic, lebih tinggi kemandiriannya dalam memutuskan, dan lebih tinggi dalam kepercayaan bahwa setiap tindakan ada konekwensinya. Mereka juga lebih mandiri dibanding kelompok bawah perempuan.
e.         Ada kekurangan yang bisa diperhatikan pada perbedaan individu atau kepribadian antara kelas bawah laki-laki dan kelas bawah perempuan.
f.          Pada kelompok menengah, laki-laki memiliki nilai lebih tinggi dari pada perempuan dalam pengetahuan atau orientasi mengenai masa depan, pesimis atau kurang percaya diri, penguaaan dalam hubungan antar personal, percaya diri, dan merasa pantas atau kepantasan diri.untuk bagiannya, kelas menengah perempuan mempunyai nilai lebih tinggi pada kepercayaan bahwa nasib menguasai segala-galanya, optimis, puas secara umum, ketakutan atau kegelisahan, kebutuhan untuk mencari kepastian.
Dalam proses membuat keputusan yang diakibatkan oleh kepribadian seseorang, Chris Argyris mensurvai 165 top manager dari 6 perusahaan, yang hasilnya:
a.         Ambil resiko atau bereksperimen atau mencoba dengan ide atau gagasan-gagasan baru atau perasaan-perasaan baru.
b.         Membantu orang lain untuk mengaku sepenuhnya, terbuka, dan ambil resiko
c.         Menggunakan model tingkah laku yang mendukung aturan individu dan percaya sama bagusnya dengan ketidak percayaan.
d.        Mengekspresikan perasaan baik positive maupun negativ.
Pembuat keputusan akan melakukan yang terbaik untuk menyadari pentingnya kepribadian dalam proses pemilihan dan membiarkannya bebas berekspresi dalam memberikan kontribusi secara positive untuk kepuasan secara individu dan pengeluaran agar bisa diterima lebih siap  dengan senang hati oleh individu-individu yang dikenai keputusan.
B.  Kecenderungan Resiko dalam Perilaku Pilihal

Berdasarkan gambar pada halaman 6, dapat diambil keterangan seperti:
Bagian kiri artinya; keinginan/pengeluaran/hasil
Bagian bawah ; kemungkinan sukses
Bagian kanan; kecenderungan untuk menerima resiko
Bagian dalam: kecenderungan untuk melawan/menolak/memperkecil resiko
Bisa dianalisa sebagai dua pembuat keputusan yang memiliki kepribadian yang berbeda, pembuat keputusan pertama mempunyai kecenderungan yang tinggi untuk menerima resiko. Dia mengasosiasikan penerimaan resiko dengan keinginan pengeluaran yang tinggi. Baginya resiko dan penghargaan dikorelasikan positive untuk beberapa point/hal dimana lebih jauh penerimaan resiko  menjadi tidak bisa ditoleransi. Artinya, pembuat keputusan lebih suka membuat pilihan dimana keinginan pada pengeluaran tertinggi dan di mana melakukan ketidakpastian pada kesuksesan tertinggi. Itulah mengapa, dia yang pertama, dan pilihan yang lebih disukai akan berada pada poin A pada bagan. Pada pion ini dia akan mengalami kombinasi paling tinggi, seimbang antara kemungkinan berhasil/sukses dan keinginan pengeluaran yang terbagus.
Kecenderungan dari A ke B
Dia bisa mendapatkan pengalaman dan informasi yang lebih untuk keinginan yang paling tinggi. Pilihan menunjukkan kesuksesan/keberhasilan yang menurun dan outcome/pengeluaran menjadi low atau rendah ke point D
Kecenderungan dari A ke C
Menunjukkan keberhasilan yang meningkat dan outcome/pengeluaran yang lebih tinggi. Pembuat keputusan yang ke dua ( diterangkan sebaliknya dengan kode E,  H, J, G F)
C.  Persepsi dalam Pengambilan Keputusan
Salah satu faktor dasar dalam pengambilan keputusan adalah proses persepsi. Persepsi ini meliputi kemampuan seseorang untuk membuat sejumlah fakta dan informasi secara terbatas dan menerapkannya dalam gambaran yang menyeluruh. Lebih banyak interaksi dan informasi yang tersedia dan persepsi akan menjadi lebih jelas dan mudah digambarkan. Persepsi seseorang juga dipengaruhi oleh tindakan tertentu.
Dapat disimpulkan bahwa persepsi seseorang akan dipengaruhi oleh keberadaan seseorang di mana dia melihat situasi, fakta, atau suatu tindakan.
Proses persepsi (tiga element dasar atau primer)
1.         Selectivity yaitu di mana informasi-informasi tertentu dipisahkan untuk pertimbangan lebih jauh dan disesuaikan dengan permasalahan yang ada.
2.         Closure yaitu di mana informasi yang ada dikumpulkan untuk mendapatkan maksud yang lengkap.
3.         Interperetation yaitu di mana pengalaman sebelumnya digunakan sebagai alat untuk mempertimbangkan informasi yang dikumpulkan.
Hasil dari interaksi elemen-elemen tersebut adalah suatu perilaku seseorang dalam memilih informasi yang memberikan respon pada seseorang untuk memilih tindakan yang tepat dalam mengambil suatu keputusan beserta resiko yang ada yang bisa diterima untuk diantisipasi dengan tepat.
Bergen membagi proses persepsi menjadi 4 yang meliputi:
1.      Karakter rangsangan yang diteliti,
2.      Persepsi pertanyaan pada penelitian,
3.      Isi konten dari rangsangan penelitian,
4.      Sesuatu yang menjadi rangsangan.
Karakter menurut Zalkird and Costello adalah sebagai kepentingan tunggal, setiap individu memiliki aturan di mana dia memiliki pertimbangan lainnya seperti:
1.      Mengetahui diri sendiri membuat persepsi menjadi mudah untuk dilihat secara akurat,
2.      Karakter yang dimiliki seseorang mempengaruhi karakter lainnya,
3.      Seseorang yang bisa menerima diri sendiri, akan dapat mengetahui aspek-aspek baik pada orang lain,
4.      Ketepatan dalam melihat persepsi pada orang lain bukan hanya merupakan keterampilan tunggal, para pembuat keputusan merasakan persepsi yang lainnya sama seperti dirinya.
Karakter-karakter yang dapat mempengaruhi persepsi dalam pengambilan keputusan:
1.      Status seseorang.
2.      Jabatan, jabatan tinggi seseorang dipertimbangkan sebagai keinginan untuk bekerja sama. Sedangkan jabatan rendah dipandang sebagai suatu keharusan untuk bekerja sama. Lebih menyenangkan cenderung ditunjukkan untuk orang yang jabatannya tinggi daripada yang jabatnnya rendah,
3.      Peraturan suatu organisasi juga mempengaruhi suatu persepsi, sebagai contoh penmbuat keputusan mungkin merespon hal yang sama dengan cara yang berbeda pada organisasi yang berbeda,
4.      Visibility traits akan mempengaruhi ketepatan pertimbangan.
Persepsi yang mempengaruhi pengambilan keputusan meliputi:
1.      Stereo typing “simple picture in our head” merupakan gambaran sederhana di benak kepala, yang memberitahu kita mengenai seseorang pada kelempok tertentu untuk kita memusatkan perhatian.
2.      The halo effect, contoh: seorang professor dengan kepercayaan penuh pada mahasiswa yang sangat rajin dating kemudian menurun kepercayaannya pada mahasiswa yang dating di kelas dengan tidak disiplin.
3.      Projection, merupakan karakter yang dimiliki seseorang yang sudah melekat atau dikenal oleh orang lain.
4.      Perceptual defense, merupakan situasi yang berhubungan dengan waktu pembuat keputusan yang dihadapkan dengan kenyataan atau kejadian yang tidak tetap.
Hubungan antar individu yang mempengaruhi proses pengambilan keputusan meliputi: tekanan social (status suatu kelompok), aspirasi social, penerimaan keputusan. Contoh: jika seseorang melayani pemimpin pada suatu kelompok, dia akan dianggap sebagai anggota yang lain mengenai nilai atau karakter sikap dalam kelompok tersebut.
D.  Pengaruh Alam Bawah Sadar dalam Pengambilan Keputusan
Dalam konteks pengambilan keputusan, seseorang mungkin bisa berfikir di bawah alam sadar dan hal itu dianggap tidak realistis. Pada tingkat sadar, apakah kita benar-benar berfikir dan bisa memberi alasan pada suatu hal secara bertahap. Tetapi pada tingkat bawah sadar, psikis atau emosi dapat mempengaruhi proses berfikir kita. Kemudian seseorang merasa bahwa pemikiran tertentu muncul tanpa harus tahu “mengapa”. Jika pemikiran ini muncul pada seseorang, mungkin akan menjadi nyata.
Pada kenyataannya seseorang akan selalu mencoba, ketika pikiran berada di bawah alam sadar muncul dan akan membawa atau mewujudkannya menjadi bentuk yang nyata, pikiran yang nyata itu akan menjadi seimbang antara keduanya.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
            Dalam proses pengambilan keputusan, seorang pimpinan juga perlu memperhatikan konteks psikologi, karena dengan demikian pemimpin dapat mendeskripsikan setting yang dipelajari, aktivitas-aktivitas yang berlangsung, orang-orang yang terlibat di dalamnya, dan makna kejadian yang dilihat dari perspektif mereka. Konteks psikologi di sini meliputi, determinan pilihan, resiko, persepsi, dan pengaruh alam bawah sadar individu.
Perlu diperhatikan bahwa setiap keputusan menuntut penafsiran dan evaluasi terhadap informasi. Karena itu, data yang diterima perlu disaring, diproses, dan ditafsirkan. Pembuat keputusan perlu memperhatikan kepribadian atau perilaku sebagai determinan dalam melakukan pilihan untuk mengambil keputusan. Keputusan bisa terjadi secara sadar dan tidak sadar, dalam mengambil keputusanpun pimpinan harus memperhatikan resiko atau dampak yang mungkin terjadi.

Saran
Seorang pimpinan satuan pendidikan maupun organisasi hendaknya tidak melupakan konteks psikologi dalam mengambil keputusan, karena konteks tersebut memiliki pengaruh terhadap keputusan yang akan diambil.

 DAFTAR PUSTAKA

Drugmmond, H., 1993. Effective Decision Making: A Practical Guide for Management. London: Kogan Page Limited.
Harrison, E.F., 1992, The Managerial Decision-Making Process. Boston: Houghton Miffin Company.



1 komentar: